Aku Tidak Takut Setan
Juli 15, 2008
“Kayak digoda setan”, sepenggal SMS mama Ksatria sampai di ponsel ayah, Sabtu malam minggu lalu. Hari itu memang ada gejala Ksatria diganggu setan. Enggak tahu benar apa salah, tapi yang jelas Ksatria nangis tak henti selepas adzan Maghrib.
Muasalnya, Ksatria disimpan di kamar mamanya di rumah Uti dan Mbah Kangkung di Perum Jatijajar, Cimanggis, Depok. Soalnya Ksatria ngantuk dan ingin tidur. Selepas diayun-ayun dan ditimang-timang mamanya, Ksatria tidur, mama lalu membaringkannya di tempat tidur, sehabis itu ditinggal.
tak lama Ksatria menjerit lalu menangis. Tak henti, bibirnya bahkan sampai biru. “Kayak yang susah bernafas”, cerita mamanya. Iya mamanya memang punya pengalaman mengerikan di kamar itu, dulu waktu kceil beberapa kali digoda setan dengan cara ‘ditekan’. Orang Sunda menyebutnya ‘ereup-ereup’, jika sedang tidur, tahu-tahu tidak bisa bangun tapi kita berada dalam setengah sadar. Nafas pun menjadi sulit.
Tidak hanya Ksatria yang diganggu, Ziah, sepupunya yang tiggal di Cengakreng juga mengalami hal serupa. Hanya kejadiannya malam-malams ekitar pukul 12-an. Tiba-tiba Ziah menangis tak henti. Ini terjadi juga ketika Ziah sedang menginap di Cimanggis.
Hanya dengan doa dari mamanya: “Ya Allah lindungi Ksatria”, lalu mama dan Utinya juga berdoa, baru tangisan Ksatria berhenti.
Rumpun Bambu di Ruas Cilebut
Beberapa bulan sebelumnya, Ksatria juga seperti digoda setan. Pulang dari Cimanggis, kami naik motor lewat Bojong Gede-Cilebut. Menjelang Maghrib juga, ada seruas jalan yang menyeramkan. Rumpun bambu menggelayut di pinggir jalan. Gelap dan dingin. Mamanya sudah bilang ngeri lewat jalan itu.
Meskipun tidak ada bukti ada setan yang menggoda di situ. Neneknya Ksatria beranggapan demikian. Soalnya, pas beberapa menit setelah sampai di rumah Bogor, Ksatria nangis keras. Meskipun akhirnya berhenti juga, sampai tengah malam dia masih tersedak-sedak dan sering menangis. Aura kamar kami juga jadi tidak anak, ada bau aneh-aneh yang ketika dicari sumebrnya tidak ketemu.
Akhirnya abah dan nenek mengaji di atas. Untuk amannya Ksatria ditidurkan di kamar bawah. DI bawah, Ksatria tidur lelap hingga pagi menjelang.
Kata neneknya, bayi memang menarik buat mahkluk halus, baunya wangi. Yah, sebagai orang beragama, kami percaya hal-hal gaib, apalagi kalau sudah mengganggu bayi yang amat kami sayangi. Rasionalitas yang selama ini saya junjung tinggi pun seolah luluh jika mendengar hipotesa-hipotesa dari Uti, Nenek, dan Abahnya Ksatria. Tapi tetap saja, saya yakin, selama kita tidak takut kepada makluk halus yang jahat dan kita yakin akan kekuasaan Allah SWT yang paling besar dan kuat di jagat ini, setan sejahat apapun tak akan bisa mengalahkan kita. Insyallah….
Entry Filed under: Baby's Diary. Tag: bayi dan hantu, bayi diganggu hantu, bayi diganggu setan, bayi ganteng, bayi lucu, cilebut, cimanggis, depok, gangguan setan, godaan setan, melindungi bayi dari hantu, setan.
1 Comment Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed












1.
ita | Juli 24, 2008 at 6:59 am
klo da bayi kyk gt ksh ja daun blengke, klo di tempat mu gak ada km ke tempat ku aja,,,,,,,, heee,,,2oo8x,,, naek bebek terbang